Senin, 12 April 2021

 Eyang Singonoyo-PS Rasa


https://jurnaba.co/sebuah-perjalanan-membaca-potensi-desa/#:~:text=Eyang%20Singonoyo%20adalah%20tokoh%20yang,Paku%20(Sunan%20Gunung%20Jati).



Jurnaba

Home  Destinasi

Sebuah Perjalanan Membaca Potensi Desa

Ira Aristiasari by Ira Aristiasari  December 5, 2019

Sebuah Perjalanan Membaca Potensi Desa

Hati terasa adem ayem sejak menginjakkan kaki di Desa Sukorejo Kecamatan Kota Bojonegoro. Sebuah desa dengan penduduk terbesar di Kabupaten Bojonegoro yang terletak di jantung Kota Bojonegoro.


Saya melangkahkan kaki menyusuri Desa Sukorejo. Saya melihat bus keluar masuk dari arah timur. Di desa inilah, Terminal Rajekwesi Bojonegoro berada. Saya mendengar suara tulit-tulit dari arah selatan, di desa ini pula Stasiun Bojonegoro bersemayam.


Saya tiba di sebuah gapura. Gapura penuh ukiran yang nampaknya dimodel mirip kayu. Saya baca ukiran yang menempel pada gapura tersebut berbunyi: Sentra Industri Meubel Dan Ukir”. Teng… Tong… Ya! Ternyata itu gapura memasuki wilayah Desa Sukorejo dengan nama jalannya: Jalan Brigjend Sutoyo.



 

Memang benar. Desa Sukorejo terkenal sentra atau pusat industri meubel dan furniture berbahan dasar kayu jati. Apalagi, di desa ini terdapat TPK (Tempat Penimbunan Kayu) Perhutani yang dilelang dan dijual pada masyarakat. Sehingga, dengan sangat mudah, mendapat kayu jati gelondongan maupun olahan.


Kini, jumlah home industry meubel dan furniture Desa Sukorejo mencapai ratusan. Setiap tahun selalu diadakan Bojonegoro Wood Fair (BWF) atau pameran furniture/meubel Bojonegoro.


Sehingga, para perajin meubel berlomba-lomba memamerkan dan memasarkan produknya. Pameran ini banyak dikunjungi para wisatawan dari berbagai kalangan.


Saya terus melangkah lurus mengikuti kata batin. Hingga kaki ini sampai di depan sebuah tempat yang tiba-tiba membuat bulu kuduk berdiri. Tempat apakah itu?


Deg.. Deg… Ternyata oh ternyata… Saya berdiri tepat di depan makam kembar. Whattss? Makam kok kembar sih? Iya memang makam yang ada di Desa Sukorejo ini kembar. Ada dua makam yang saling berhadapan dan itu sama persis alias kembar gengs.



 

Di sinilah, Eyang Singonoyo dan istrinya dimakamkan. Eyang Singonoyo adalah tokoh yang menjadi cikal bakal Desa Sukorejo. Singkat cerita, nama asli dari Eyang Singonoyo adalah Raden Subkhan atau Raden Mas Joyo Hadikusumo. Ayahnya bernama Syahidu bin Raden Santri bin Raden Paku (Sunan Gunung Jati).


Dijuluki Singonoyo dengan arti macan yang kuat, karena kepiawaiannya dalam ilmu olah kanuragan yang digunakan untuk melawan kejahatan.


“Karena pada waktu itu, disini merupakan daerah yang rawan kejahatan atau istilahnya daerah abangan. Selain menyebarkan ajaran agama, Eyang Singonoyo juga melawan para penjahat itu”, kata Masruhan selaku Kaur Pelayanan Desa Sukorejo.


Atas jasanya tersebut, Pemerintah Rajekwesi memberinya sebidang tanah berupa hutan belantara (sekarang dikenal dengan Jalan Brigjend Sutoyo). Di tempat tersebut, istrinya melahirkan 4 orang anak yang bernama Singorejo, Singodongso, Singojoyo, Singodono.


Semakin lama, anak cucunya semakin memenuhi tempat itu dan terbentuklah sebuah desa yang bernama “Sukorejo” yang artinya suko adalah suka dan rejo berarti ramai.


Nabs, selain jasanya dalam penyebaran agama islam, Eyang Singonoyo juga andil dalam berdirinya perguruan pencak silat tradisional Desa Sukorejo, yakni silat RASA.


“Pencak Silat RASA itu didirikan Eyang Achmadi yang masih keturunan dari Eyang Singonoyo”, ucap Masruhan.


Pencak silat RASA berdiri pada tanggal 1 Mei 1948. Pencak silat ini adalah pencak silat asli Desa Sukorejo. Organisasi RASA ini pertama kali dibawa oleh Eyang Achmadi, yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Sukorejo. Beliau mencetuskan gerakan-gerakan seni bela diri.


Kepanjangan dari RASA yaitu Rukun Angudi Santosaning Anggo (mencari kerukunan dan kebaikan rakyat).


Menurut tokoh sekaligus guru besar pencak silat RASA, Masrukin, saat ini, perkembangan organisasi pencak silat RASA sudah berdiri di kantor-kantor cabang, seperti Kecamatan Tambakrejo, Ngasem, Dander, dan Kapas. Atlet yang ikut dalam organisasi pencak silat RASA juga sering dikirim mewakili kabupaten dalam setiap kejuaraan.


“Pada 20 Juni 1986 organisasi pencak silat RASA masuk dalam IPSI (Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia.” Kata dia.


Langkahku terhenti di tempat ini, di depan makam kembar. Memang ketika memandang langsung suasana di dalam makam terasa ngeri. Tapi perlahan pandanganku beralih, seketika di depan makam menjadi ramai, banyak orang berlalu lalang.


Nabs, ternyata, di pertigaan makam kembar digelar acara peringatan haul Eyang Singonoyo. Mulai dari terop, panggung, dan stand-stand kecil didirikan. Acara ini rutin digelar tiap tahun yang berlangsung selama sepuluh hari, tepatnya Bulan Safar.


Kegiatan haul ini, sudah menjadi agenda Desa Sukorejo setiap tahunnya dan sudah diatur dalam perda. Selain menggelar berbagai kegiatan seni, dalam haul Eyang Singonoyo ini diwarnai berbagai bazar yang menyajikan aneka kuliner dan bermacam pernak-pernik.


Masruhan, kaur pelayanan Desa Sukorejo berharap, kegiatan haul ini dapat digelar tiap tahunnya. Hal ini mengingat perkembangan zaman yang mana generasi muda saat ini dianggap kurang paham terhadap budaya lokal termasuk sejarah para leluhurnya. Yang pasti kegiatan ini juga untuk mendoakan leluhur Desa Sukorejo.


“Kegiatan haul Eyang Singonoyo ini untuk mendoakan leluhur sekaligus nguri-nguri budaya khususnya Desa Sukorejo.” Pungkas Masruhan.


 


Tags: Desa SukorejoPotensi Bojonegoro


 

BERITA MENARIK LAINNYA

Nagari Lapiak Pandan, Kehidupan Bersahaja di Ujung Sumatera

DESTINASI

Nagari Lapiak Pandan, Kehidupan Bersahaja di Ujung Sumatera

 MARCH 23, 2021

Ngluyur Bareng Jurnabis: Dicky Eko dan Nisan Konstitusi

DESTINASI

Ngluyur Bareng Jurnabis: Dicky Eko dan Nisan Konstitusi

 FEBRUARY 6, 2021

Benarkah Kampanye Tray Return Point Berdampak bagi Komunitas Muslim Singapura?

DESTINASI

Benarkah Kampanye Tray Return Point Berdampak bagi Komunitas Muslim Singapura?

 JANUARY 29, 2021


 

Home  Cecurhatan

Misteri di Balik Maraknya Pohon Tumbang di Bojonegoro

Ahmad Wahyu Rizkiawan by Ahmad Wahyu Rizkiawan  December 5, 2019

Misteri di Balik Maraknya Pohon Tumbang di Bojonegoro

Menguak penyebab maraknya pohon yang tetumbangan, tim kami menginterview perwakilan paguyuban pohon pinggir jalan dan koordinator angin kencang. Berikut narasinya.


Bencana angin kencang terjadi beberapakali di Bojonegoro. Bulan kemarin, banyak pohon tumbang akibat angin yang tak bisa mengendalikan diri. Pertanyaannya, semara-mara itukah angin pada manusia?


Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, total sebanyak 1.445 rumah alami kerusakan akibat bencana angin kencang. Detailnya: 1.204 rumah rusak ringan, 194 rumah rusak sedang, dan 47 rumah rusak berat, seperti dikutip dari Kompas.com


 

Data tersebut, tentu bukan isapan kelingking belaka. Tapi benar-benar terjadi dan ada. Angin yang biasanya sejuk dan diharap-harap kehadirannya, tiba-tiba murka merusak banyak fasilitas.


Memang, tak hanya rumah yang rusak dan roboh akibat angin. Puluhan pohon dan tempat perbelanjaan juga menjadi korban. Pohon-pohon pinggir jalan, misalnya, bahkan banyak yang tumbang dan roboh secara berjamaah.


“Saya tidak tahu, tiba-tiba mereka tumbang begitu saja,” kata sebatang pohon berukuran tanggung.


Ia menceritakan jika angin datang memang tak seperti biasanya. Agak tergesa-gesa dan sedikit mengabaikan rambu-rambu yang mengatur kapan seharusnya ia pelan dan kapan seharusnya ia meningkatkan kecepatan.


“Sepertinya angin agak marah.” Ucapnya lugu khas ABG labil.


 

Pohon berukuran tanggung itu tak ikut tumbang karena ukurannya tak terlalu besar. Selain ukurannya kecil, saat angin kencang datang, ia aman karena di depannya ada banyak toko yang berderet-deret. Sehingga mampu memecah keganasan angin.


Tapi, hal berbeda tentu dirasakan pohon besar. Pohon-pohon dengan jumlah usia yang melebihi jumlah jari manusia tersebut, terlihat banyak tetumbangan. Di jalanan, pohon-pohon itu seperti guling yang berada di kasur tempat tidur: selonjoran. Mereka tak kuat menahan angin yang tiba-tiba datang.


“Ya, roboh saja. Biar diperhatiin,” ucap salah satu pohon besar yang asyik menumbangkan diri.


Pohon mahoni berdiameter 120 cm itu menjelaskan, saat hujan badai terjadi, sesungguhnya angin yang datang tak kencang-kencang amat. Setidaknya tak lebih kencang dari mulut seorang politisi. Hanya, dia memang sengaja merobohkan diri.


Merobohkan diri, kata pohon besar tersebut, kadang menjadi satu-satunya cara agar sebatang pohon bisa diperhatikan manusia. Sebab sejauh ini, manusia hanya butuh teduhnya, tanpa sekalipun memperhatikan kondisi akar pohon itu sendiri.


“Kalau roboh gini kan enak, diperhatiin.” Jelasnya penuh rasa percaya diri.


Menurutnya, manusia terlampau tidak bijaksana. Mereka jarang memperhatikan pohon. Mereka hanya perhatian kala sedang butuh saja. Contohnya, saat kepanasan lalu mencari pohon buat berteduh. Itu kan mirip lirik lagu Mundur Alon-alon: mung dibutuhno pas atimu loro.


Sesungguhnya, kata dia, pepohonan adalah sekuat-kuatnya makhluk hidup. Bagaimana tidak, tiap hari menyerap racun dan menggantinya dengan oksigen. Serupa menyerap pedih dan menggantinya dengan kebahagiaan.


Tapi, meski sudah diperlakukan sebaik itu, manusia tetap menjadi makhluk yang sulit mengucap rasa terima kasih. Tak hanya sering mengabaikan, tapi kian bodoh dengan mempersempit ruang hidup pepohonan.


Jadi, daripada cuma dijadikan tambal butoh, ucap pohon besar itu, ya mending memilih roboh. Toh dengan merobohkan diri, ia justru bisa lebih jadi perhatian khalayak ramai. Terlebih, lokasi robohnya pohon-pohon itu di jalan raya besar, bukan di tengah hutan.


Saat ditanya kenapa jumlah pohon yang roboh amat banyak, pohon besar itu mengatakan, memang sebelumnya sudah ada obrolan antar sesama pohon. Dari obrolan serius tersebut, lahir kesepakatan jika sudah waktunya mereka merobohkan diri.


“Bukan anginnya yang besar, tapi kitanya yang lagi pengen roboh. Angin saja kaget kok saat kita roboh,” tuturnya.


Ia menjelaskan, sesungguhnya angin datang dengan kecepatan 15 knot atau 24 km per jam. Itu memang kecepatan angin maksimum yang normal dan tidak  luar biasa. Tapi, karena Paguyuban Pohon Pinggir Jalan sudah berniat roboh, kata ia: ya roboh saja.


Sementara itu, koordinator angin kencang yang sempat ditemui menceritakan, sore itu, mereka datang dengan kecepatan normal. Bahkan, seperti kecepatan saat hari-hari biasanya. Namun, karena pohon lagi pengen roboh, angin pun menambah kecepatan.


“Kecepatan kami sih biasa. Cuma ada reques dari paguyuban pohon agar mereka dirobohkan saja.” Jelasnya.


Angin kencang yang saat diwawancarai sedang asyik berembus itu menjelaskan, sebenarnya, ia kasihan pada pohon. Sebab, akhir-akhir ini, selain jarang mendapat perhatian manusia, ruang hidup pertumbuhan akar pohon kian menyempit. Sehingga kehidupannya pun terganggu.


Karena itu, saat paguyuban pohon mereques agar pihak angin merobohkan mereka, angin pun mengabulkan. Mengingat, ia kasihan pada nasib pohon yang kian lama kian mengenaskan.


“Kalau kami kan enak, kalau bosan tinggal berembus kemanaa gitu, lha kalau pohon, kan nggak bisa kemana-mana, ya kami kasihan saja.” Ucapnya.


Angin mengakui, sesungguhnya ia sempat tak setuju dengan keinginan pohon. Sebab, jalan tanpa pepohonan seperti kopi sonder gula. Tapi, setelah mendengar cerita sedih yang dialami pepohonan kepadanya, ia pun langsung bergerak cepat tanpa aba-aba.


“Sambil nangis, pohon bercerita tentang kekejaman manusia pada mereka, kami pun langsung marah. Kami marah bukan pada pohon, tapi pada manusia.” Kisahnya hampir terbawa emosi.


Angin yang awalnya kalem pun, karena mendengar kisah sedih dari pohon, langsung marah dan mengabaikan rambu-rambu kapan harus bergerak cepat dan kapan harus bergerak lambat. Mereka langsung gradak sehingga sejumlah pohon pun tumbang.


Tags: Angin KencangPohon RobohPohon tumbang


0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive