Senin, 12 April 2021

Hartabita :

Selasa,  13-4-2021

http://gubuktaqrib.blogspot.com/2014/12/mbah-kung.html?m=1

Minggu, 21 Desember 2014

mbah Kung


Naskah Kitab Natijatu-t Talim karya mbah Kholil

 “note ini merupakan cerita ringkas kehidupan kakek, pada note ini pembaca tidak akan menemukan kata ‘mbah Kung’ kecuali hanya pada judul”

Beliau terlahir dengan nama Sahlan pada tahun 1906, putra ke-2 Haji Abdul Muththolib ibn 'Aliy (keduanya dari kampung Sukorejo Bojonegoro, keturunan beliau bersambung sampai eyang Singojoyo&eyang Singonoyo). Ibunda beliau Fatimah, putri ke-7 dari 10 bersaudara dari pernikahan KH. Muhammad Rosyid dengan R. Kafiyah. Pernikahan mbah Fatimah dengan mbah Abdul Muththolib (wafat dalam usia±125tahun) menurunkan lima anak, Abu Bakar (Sukorejo, Wf. 1980M), Sahlan/Kholil (Sukorejo-Sumberagung, Wf. 1959M), Walijah (Sukorejo), Haulah (Sukorejo), dan Halimah (Sukorejo).

Sahlan (mbah Kholil muda) terkenal sebagai sosok yang sangat haus ilmu sehingga dengan segala kekurangan beliau bertekad untuk mencari ilmu agama ke pesantren Maskumambang Sedayu, Gresik selama beberapa tahun. Di pesantren asuhan mbah Yai Faqih Maskumambang, beliau mengaji Fikih, dan Nahwu serta menghafal al-Quran sampai dengan juz 21. Beliau juga terkenal cerdas, terbukti ketika menghafal 1002 nadzam Alfiyah Ibnu Malik beliau hanya membutuhkan waktu selama satu bulan. Sepulang dari nyantri di pesantren maskumambang, beliau bermaksud memperbaiki bacaan quran sekaligus mencari sanad ke pesantren krapyak di bawah asuhan KH. Abdullah Rosyad. Pasca kepulangan mbah Sahlan dari Krapyak Yogyakarta beliau terlihat 'alim dan bijaksana serta disegani di masyarakat. Hal inilah yang kemudian menjadikan paman beliau mbah Haji Ridlwan menawari beliau pergi haji dan melanjutkan studinya ke Makkah di bawah asuhan as-sayyid 'Alwi ibn Abbas al-Maliki al-Hasani. Beliau 'tabakhkhur fil ilm' di Makkah ± selama 4tahun. Di majlis Sayyid Alawi-lah mbah sahlan menghatamkan hafalan beliau yang kurang 9 juz. Di penghujung masa studi beliau di Makkah, beliau disusul oleh mbah Haji Ridlwan dan dinikahkan dengan salah satu putri mbah haji Ridlwan yang bernama Zaenab. Akad nikah dilaksanakan di kota suci Makkah. Beliau kemudian diminta untuk segera pulang ke Indonesia dan menyelenggarakan walimatul arusy di Indonesia.

Di era tahun 40-an kebiasaan orang jawa setelah pulang haji adalah mengganti nama, begitupun yang dilakukan mbah Sahlan, sejak pulang haji nama beliau berganti menjadi Muhammad Kholil. Pernikahan mbah Kholil dengan mbah Zaenab tidak bertahan lama, lantaran mbah Zaenab-menurut cerita santri-santri ketika itu-mengalami gangguan jiwa sehingga seringkali bertingkah kekanak-kanakan. Walhasil, mbah Ridlwan mengutus mbah Kholil untuk menceraikan Zaenab, dan mbah Kholilpun mentaatinya. Rumahtangga mbah Kholil dengan Zaenab tidak dikaruniai keturunan.

Setelah cerai dengan mbah Zaenab, mbah Kholil menikah lagi dengan mbah Saudah (Ngumpakdalem Dander Bojonegoro). Pernikahan ini juga hanya bertahan ± 1tahun. Dari pernikahan ini, mbah Kholil juga tidak dikaruniai keturunan. Usai bercerai dengan mbah Saudah mbah Kholil diajak dan diminta untuk 'mulang ngaji' di tembat mbah Thoyyib (pendiri masjid Ath-Thoyyibah-Sumberagung-Dander Bojonegoro). Berdasarkan cerita dari berbagai saksi sejarah, ketika itu di Bojonegoro hanya ada dua kyai terkenal; mbahyai Abu Dzarrin dan mbahyai Kholil.

Ketika beliau mengampu masjid dan menghidupkan masjid dengan aneka ragam kegiatan keagamaan dan pendidikan beliau menikah dengan Ibu Halimah (Ngraseh, Dander). Dari pernikahan ini beliau mempunyai 3 putra: Hajar, Muslim, dan Yasin, (semuanya wafat sebelum menikah), dan 3 orang putri: ibu Asiah, Hj. Maemunah, dan Robiah yang wafat sebelum dewasa. Ibu Asiah dinikahkan dengan KH. Muhaimin (santri tua mbah Kholil dan saat ini beliaulah yang meneruskan rutinan ngaji mbah Kholil). KH. Muhaimin dan Ibunyai Asiah dikaruniai 7 putra-putri: Fahrur Rozi, Lu’luatul Fuad, Saiful Huda, Lilik Zulaikho, Siti Al Qoniah, Eni Khusniati, dan Ipung Saifullah. Sedangkan putri ke-2 beliau, ibu Hj. Maemunah dinikahkan dengan (alm.)KH. Fathul Munir (santri tua mbah Kholil), dan dikaruniai 6 putra-putri: Zainal arifin, Khoirul Farihin, Nurul Kholifah, Niswatin, Hj. Sriwiqoyah dan nikmatul Fitria.

Mbah Kholil merupakan tokoh yang mengawali adanya jamaah pengajian ibu-ibu di sekitar desa dimana beliau mukim. Majelis pengajian beliau tersebar di berbagai daerah, diantaranya; Karangsono Dander, Ngraseh, Sumberagung, Sumodikaran dan Sukorejo. Majlis pengajian beliau meliputi beberapa fan ilmu, fikih, tasawuf dan akidah. Pengajian beliau kian pesat santrinya lantaran publik mengetahui bahwa mbah Kholil adalah alumni majlis ilmu-nya Sayyid Alwi Makkah. Di masjid ath-Thoyyibah dan di rumah, beliau juga membuka pengajian Ahad-an dan Sabtu-an yang sampai saat ini masih eksi dan diteruskan oleh menantu beliau KH. Muhaimin. Santri-santri yang ngaji kepada beliau tidak hanya dari daerah sekitar tapi juga dari luar desa, kecamatan, bahkan kabupaten. Mbahyai Dimyathi (putra Kyai Abu Dzarrin), mbahyai Munir Adnan (pendiri+pengasuh PP. Abu Dzarrin-Bojonegoro), mbahyai Masyhur (pendiri PP. Al-Rosyid-Bojonegoro), dan mbahyai Charis Adnan (pendiri PP. Adnan al-Charish) adalah sederet kyai yang pernah ngaji Quran dan makhorijul huruf kepada mbah Kholil di masjid ath-Thoyyibah.

Meski beliau telah mengajar ratusan santri kala itu, beliau tetap haus ilmu dan aktif mengikuti pengajian ayahnya (mbah Abdul Mutholib) di Sukorejo setiap selasa pagi. Di masa mengaji beliau dengan para santri di masjid tersebut beliau menikahi 4 gadis sekaligus dalam waktu setahun. Berikut empat wanita yang dinikahi mbah Kholil dalam setahun:

1. Ibunyai Nafsah, mempunyai 2 putra & 1 putri; H. Badruddin, Mundir, dan Maryam

H. Badruddin menikah dengan Hj. Indasah dan mempunyai 1 putri dan 2 putra: Hasanatul Maulidah, Munawirul Jamal, dan Syahrul Aziz 

Mundir, menikah dengan Endang Trisnaningsih dan mempunyai 2 putra: 

Maryam dinikah K. Badrul Alam dan mempunyai 2 putra & 1 putri: Muhlasin, Qoimah dan Khoirul Fatihin

2. Ibunyai Sumi, mempunyai 2 putri & 1 putra: Rohmah, Rohil, dan Salman,

Rohmah, dinikahi oleh Nurhasim mempunyai 2 putri & 1 putra: Ali Mahsun, Mardliyah dan Kholifatun Nikmah. Kemudian setelah becerai, Rohmah dinikahi oleh Muslih dan mempunyai 3 putra & 1 putri: Umar Hamdan, Laila Maisaroh, Zainal Lutfi, dan Sahrul Ulum 

Rohil, dinikahi Kusnan dan mempunyai 4 putra & 2 putri: Sulhan, Fauzi, Ali Sofwan, Anisah, Nurul Aini, dan Abdur Rozaq 

Salman, wafat sebelum menikah

3. Ibunyai Asfiyah, mempunyai 2 putra & 1 putri: Mudjib, Hasan, dan Rihanah

Mudjib, menikah dengan Siti Fatimah dan mempunyai 3 putra & 2 putri: Ahmad Roziqin, Su’udin Aziz, Adam Kholilur Rohman, Lumhatul Uyun dan Rofiqotul Azizah 

Hasan, menikah dengan Imro’atin dan mempunyai 2 putri: Nurul Hidayah dan Eny Lu’luatin 

Rihanah, dinikahi oleh M. Nursalim dan mempunyai 1 putra dan 1 putri: Roifatul Hidayat dan Nur Ima Mukholifah

4. Ibunyai Masyriqoini tidak dikaruniai putra.

Mbah Kholil terkenal sebagai suami yang sangat adil kepada istri-istrinya. Beberpa sumber bercerita bahwa beliau sering membelikan pakaian istri-istrinya dengan warna dan kualitas yang sama, jatah untuk diajak pergi ke Sukorejo-pun beliau gilir bergantian dengan sangat adil. Untuk mencukupi kebutuhan para istri, beliau mempunyai ma’isyah, yakni sebagai tukang jahit pakaian. Profesi menjahit tidak mengurangi waktu beliau mengabdi pada masyarakat. Beliau menjadi guru ngaji dari ratusan santri, sehingga banyak masyarakat yang ingin memberikan apa yang mereka punya kepada kyai Muhammad Kholil.

Masterpiece karya beliau di bidang penulisan adalah ringkasan kitab tajwid dan kitab natijatu-t ta’lim, keduanya adalah kitab dengan bahasa Jawa yang beliau nukil dan ringkas dari beberpa kitab klasik karya para ulama terdahulu. Sampai saat ini kedua kitab tersebut menjadi kitab pokok yang diajarkan di TPQ dan Madin At-Thoyyibah.

Mbah Kholil wafat ba’da maghrib pada hari Ahad Wage, tanggal 4 Rabiul Awal ± 1381H bertepatan dengan tahun 1959M. di tahun 1959. Beberapa hari sebelum wafat beliau menjadi sosok yang amat sabar. Menurut penuturan salah satu santri beliau, beliau sudah mendapat tanda-tanda akan kewafatan beliau.[dinz]

Unknown di 08.51

Berbagi

5 komentar:


Unknown16 April 2016 02.48

maha besar ALLOH dengan segala penciptaan-Nya karunia-Nya dan kehendak-Nya


Balas


Unknown16 April 2016 02.49

maha besar ALLOH dengan segala penciptaan-Nya karunia-Nya dan kehendak-Nya


Balas


Unknown24 April 2016 21.17

Terimakasiih


Balas


MISBAHUDIN18 September 2018 06.10

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.


Balas


MISBAHUDIN18 September 2018 06.13

Alhamdulillah

Bagus Gus bisa sebagai pencerahan atas kekurang pahaman silsilah dari beliau,

Namun kok banyak kata kata yang kadang susah difahami ya ???

Contoh "ulama Injil"

Itu maksudnya apa ya?


Balas

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive